Teknologi

Pemerintah Kebut Pembangunan Infrastruktur Internet

Administrator | Selasa, 16 Agustus 2016 - 14:30:20 WIB | dibaca: 416 pembaca

Kabel yang menghubungkan jaringan internet seluruh dunia.

LIPUTANPAPUA.COM, JAKARTA -- Kecepatan internet kini sudah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat. Pola komunikasi masyarakat sudah beralih dari yang semula mengandalkan layanan suara dan SMS, menjadi layanan data. Untuk menyediakan internet yang memadai, pemerintah terus membangun infrastruktur demi menyongsong ekonomi digital.

Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi melalui tender Palapa Ring Timur, Palapa Ring Barat, dan Palapa Ring Tengah. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informasi, Noor Iza mengatakan, pemerintah sudah menetapkan pemenang tender Palapa Ring Timur, yakni konsorsium Moratelindo-IBS-Smart Telecom yang dinyatakan lulus administrasi dan lulus teknis dengan skor 85,98 dan total nilai finansial sekitar Rp 14 triliun.

 

Konsorsium ini mengalahkan konsorsium pesaingnya yang terdiri atas XL Axiata-Indosat-Alita. Setelah ditetapkan pemenang lelang, saat ini memasuki proses pembentukan badan usaha pelaksana yang ditargetkan pada akhir Agustus 2016 akan dilaksanakan penandatanganan perjanjian kerja sama. “Paket Barat dan Tengah saat ini sedang dalam tahap pemenuhan pembiayaan atau financial close,” kata Noor Iza.

Untuk diketahui, Palapa Ring Timur membutuhkan dana paling besar dibandingkan Palapa Ring Barat dan Palapa Ring Tengah. Dana 80 persen pengerjaan Paket Tengah ditaksir sekitar Rp 790 miliar, sementara Palapa Ring Timur diperkirakan membutuhkan belanja modal sekitar Rp 5 triliun. Sebab, pembangunan kabel optik mayoritas dilakukan di laut. Palapa Ring Timur mencakup wilayah Papua, Papua Barat, NTT, dan Maluku.

Sementara itu, Palapa Ring Barat dimenangkan oleh Konsorsium Moratel-Triasmitra dan menjangkau wilayah Riau, Kepulauan Riau sampai ke Pulau Natuna. Total kabel serat optik yang dibangun untuk wilayah ini sekitar 2000 kilometer.

 

Sedangkan, Palapa Ring Tengah dimenangkan oleh Konsorsium Pandawa Lima yang terdiri dari PT LEN (51 persen), PT Teknologi Riset Global Investama (34 persen), PT Sufia Technologies (5 persen), PT Bina Nusantara Perkasa (5 persen), dan PT Multi Kontrol Nusantara (5 persen). Palapa Ring Tengah menjangkau wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara sampai ke Kepulauan Sangihe dan Talaud dengan total panjang kabel serat optik sekitar 2.700 kilometer.

 

Noor Iza menjelaskan, proyek Palapa Ring diciptakan untuk menunjang bisnis digital di Indonesia. Pembangunan ini juga untuk menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkecil kesenjangan kecepatan internet antara wilayah Indonesia barat dengan Indonesia timur. Proyek Palapa Ring ini adalah pemasangan fiber optik yang melintasi seluruh wilayah Indonesia atau membangun jaringan backbone.

“Ibaratnya bikin jalan tol penghubung ke kota-kota atau daerah,” kata Noor Iza.

Strategi lainnya yang dilakukan oleh pemerintah yakni membangun jaringan akses dengan program USO, yaitu penyediaan akses internet di 3T (solusi desa broadband terpadu). Noor Iza mengibaratkan strategi kedua ini seperti membangun jalan penghubung dari jalan tol ke rumah-rumah. Dia menambahkan, keberhasilan proyek pembangunan ini tidak bisa lepas dari kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan stakeholde lainnya.

Tantangan yang masih dihadapi yakni pendampingan terhadap sumber daya manusia dan sosialisasi kepada pemerintah daerah yang harus turut mendukung program ini. Kecepatan internet ke depan akan berubah menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat. Menurut dia, State of the Report kuartal IV 2015 rata-rata kecepatan internet di Indonesia sebesar 3,9 Mbps.

Secara global, kecepatan internet di Indonesia menempati peringkat ke-92. Sedangkan, di Asia Pasifik berada di rangking 12 dan di ASEAN bertengger di rangking 4 di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. Noor Iza menambahkan, saat ini posisi kecepatan internet Indonesia di kawasan ASEAN sudah jauh lebih baik.

“Menurut Pak Menteri di setiap sambutannya, saat ini Indonesia di ASEAN berada di peringkat ke-2 setelah Singapura dan mengungguli Thailand serta Malaysia. Kenaikan ini terjadi setelah launching 4G,” ujar Noor Iza.

Meskipun peringkat kecepatan internet di Indonesia sudah lebih baik di tingkat ASEAN, pemerintah tetap bekerja keras untuk memperluas jaringan telekomunikasi di Indonesia agar seluruh masyarakat bisa mendapatkan layanan data yang mumpuni.

 

Targetnya pada 1 Januari 2019, seluruh wilayah termasuk kabupaten di Indonesia terhubung broadband. Dengan demikian, bisa menunjang bisnis digital di Indonesia dan juga dapat menunjang Gerakan Nasional 1.000 startup untuk menumbuhkan ekonomi digital Indonesia. 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)